Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2013

Kita


Malam itu aku terlalu sibuk dengan duniaku, mengetik berderet kode tugas yang deadlinenya tinggal beberapa jam lagi. Hanya sekedar mengiriminya pesan singkat pun aku tak sempat. Tugas ini benar-benar membajak habis waktuku, bahkan untuk sekedar melihat bintang favoritku pun aku tak punya waktu.
“Seru banget nugasnya. Jalan yuk”
Dia datang, hanya berselang 30 menit saat terakhir dia menelponku. Dia memang sering sekali mengagetkanku, hanya sekedar menemaniku makan atau jalan-jalan dibawah sinar rembulan. Dia, dia lelaki blasteran Aceh-Padang yang telah berhasil mencuri hati kecilku. Hari ini dia mengajakku duduk di taman kota, tempat favoritku menghabiskan malam. Ditemani segelas susu cokelat kesukaanku kami larut dalam canda tawa, memandangi langit dan larut dalam dunia yang dia ciptakan hanya untukku.
“Kamu tau kenapa aku memilihmu?”
“Itu 1 hal yang aku ga pernah tau ra, kamu harus cerita”
“Aku punya beberapa jawaban”
“Apa?”
“Kamu tegas, kamu sabar, dan banyak lagi. Kalau aku cerita seharian pun belum tentu selesai”
Dia tersenyum manis sekali, senyuman khasnya yang selalu aku rindukan setiap saat. Dia menatap mataku dalam, senyumnya kembali merekah. Garis lengkung sempurna ciptaan Tuhan yang selalu aku kagumi.
“Aku memilihmu karna cuma kamu perempuan yang mengambil tulang rusukku”
Hanya beberapa kata dari bibir indahnya itu yang meyakinkan aku dan mengabaikan si penulis itu. Ku abaikan banyak orang hanya untuk melihat senyuman indahnya. Senyum lembut yang dianugerahkan Tuhan padanya. Aku telah mencuri tulang rusuk mahluk Tuhan ini, dan hanya aku pencurinya. Malam semakin larut, menyisakan ribuan bintang disana yang sekarang sedang menjadi saksi terbentuknya kata “kita”. Kita yang terbentuk dari sepasang mahluk Tuhan yang diikat takdir.
“I wanna grow old with you ra"
Lagi-lagi aku tersipu dibuat lelaki ekstrovert ini, lelaki yang ku curi rusuknya.

Kamis, 21 April 2011

Senja di Ujung Banda (Part 3)

26 November, 08:00 pm
“Bun, buat apa pake kebaya gini?”
“Ada acara resepsi temen bunda”
“Tapi bajuku kok bagus gini bun? Beda sama punya bunda”
“Emang baju bunda jelek ya?”
“Gak bun, bunda cantik pake apapun”
          Kami bergegas menuju pantai, pantai yang dulu menjadi saksi bisu berakhirnya kisah kami. Suasana disini membuatku mengingat lagi kejadian yang susah payah kulupakan. Hari ini ditempat ini kami dulu memulai kisah kami dan disini pula tempat kami mengakhiri kisah kami.
“Yuk turun kak”
“Ntar aja bun, aku disini dulu”
          Kuhela nafas, tangis ini tak dapat lagi kubendung lagi. Tempat ini tempat kami menghabiskan akhir pekan selama 3 tahun.
“Andre..” ucapku lirih memandangi obor-obor yang ditata rapi.
          Kelopak bunga mawar bertaburan di jalan menuju panggung kecil yang dikelilingi lilin. Tapi tak kulihat orangtuaku dan tamu lain. Perlahan-lahan ku langkahkan kakiku menuju panggung kecil. Sesaat kemudian muncullah orangtuaku, adikku dan orangtua andre. Tak bisa kusembunyikan keterkrjutanku, lalu Andre datang membawa seikat mawar putih langsung menghampiriku.
“Would you marry me Clara?”
“Apa? Segampang itu Ndre?”
“Clara, aku minta maaf. Maaf, maaf, maaf”
“Kamu bisa bilang maaf setelah kamu tinggalin aku dan pergi sama Rina? Kamu kira aku gak tau sebenarnya kamu tuduh aku selingkuh sama Ryan itu untuk tutupin kedok kamu yang selingkuh sama Rina! Mungkin kalau aku terima kamu aku benar-benar GAK WARAS!”
“Tapi aku sayang kamu Ra, Aku cinta kamu”
“Kalau yang kamu bilang bener, kamu gak mungkin selingkuh! Dan kamu gak akan mesra-mesraan didepan aku”
“Ra.. please”
“Maaf aku gak bisa, I can’t love you again”
“Ra, aku mohon.. Aku mau kamu jadi istriku”
“Gak Ndre. Aku gak bisa mencintaimu lagi!”
“Aku butuh kamu Ra”
“Apa? Kamu butuh aku? Dulu siapa yang campakin aku? Kamu sadar gak apa yang kamu lakuin dulu? Kamu pasti sedang ngigau!”
“Ra.. Aku serius! Kamu udah mapan sekarang, kamu beda sama Clara yang dulu”
“Karna aku mapan makanya kamu gini? Jadi kamu mau memetik buah tanpa harus repot-repot menuai benih? Kemana kamu saat aku drop dulu?”
“Maaf Ra, aku gak maksud…”
“Cukup Ndre, aku muak dengan tingkahmu!”
“Ra aku mohon” ucap Andre berlutut sambil meraih tanganku”
Ku tepis tangan Andre dan berlari memeluk tante Fairus yang sedari tadi syok melihat pertengkaranku dan Andre.
“Tante maafin aku, aku gak bisa”
          Aku berlari menuju bibir pantai meninggalkan mereka yang terheran melihatku, ku campakkan high heel ku. Tangisku pecah lagi, aku mencintaimu Andre tapi Andre sekarang bukan Andre yang dulu. Kubiarkan air laut membasahi songket yang kukenakan, semilir angin membelaiku lembut. Bintang bertaburan seolh ingin mengobati hatiku yang terluka. Seandainya Andre tau apa yang aku lakukan untuk melupakannya, aku rela meninggalkan keluargaku untuk menghindarinya.
“Aku mencintaimu Ndre, tapi aku tak ingin kamu mencintaiku karna harta dan jabatanku”


Selesai..

Rabu, 13 April 2011

Senja Diujung Banda (Part 2)

Banda Aceh, 22 November 2010, 03.00 pm
“Bunda.. Assalamualaikum”
“Waalakumsalam”
“Happy birthday bun” ucapku sembari menyodorkan cake yang kubeli dibandara tadi dan mengecup pipi bunda.
“Aduh sayang, gak usah repot-repot gini kak”
“Gak papa bun, kapan lagi aku bisa gini. Ratih sama ayah mana bun?”
“Oh mereka ke distro nyari bajunya Ratih”
“Banyak yang berubah disini ya bun”
“Iya dong sayang, semenjak kamu pergi dan tsunami semuanya berubah total”
“Trus tante fai.. ah gak jadi deh bun”
“Andre dan keluarganya gak kena kok kak”
“Bun, aku capek.. aku istirahat ya bun”
Kupadangi dinding kamarku yang masih sama seperti dulu, kamar ini tak pernah berubah sejak kutinggalkan. Foto-foto kami dulu, boneka bugs bunny pemberiannya, bantal pink yang selalu setia menemaniku saat terlelap dulu dan baju couple bugs bunny yang kami beli saat valentine. Semuanya membangkitkan kenangan tentang kisah 7 tahun lalu. Terlalu banyak kenangan dikamar ini, kupejamkan mataku.
“Argh!! Kenangan itu lagi” ucapku sembari bngkit menghidupkan notebook.
          Apalagi yang bisa menghibur saat ini selain jejaring sosial, 15 pesan dan beberapa permintaan pertemanan. Semua pesan dari client dan dari adik leting saat kuliah dulu. Cuma 1 pesan yang menarik perhatianku, pesan dari sahabatku di SMP dulu.
Ryan Pratama
1 November 2010, 10:15 pm
Ra, susah banget ya hubungin kamu sekarang
Ciee.. orang penting nih
Kapan balik ke banda? kok balik hubungin aku ya

Tut…tut..tut..
“Halo.. ini Ryan?”
“ya, ini siapa?”
“Clara nih, aku di banda. Ntar malem ada acara?”
“Kebetulan gak ada Ra, ke tempat biasa yuk”
“Boleh juga yan, jam 7 malem ini ya. On time! bye”
***
“Dek, kamu nyetir ya. Kakak males nyetir nih!” ucapku mengambil tas.
“oke kak, mau kemana?”
“ke café biasa aja de, tau kan?”
“sip tuan putri! Siap anter kakak, aku ke kostan temen ya”
“yang penting jangan telat jemput kakak, jam 9 de”
          Suasana malam disini sangat berbeda dengan dulu, dulu ditiap rumah masih terdengar suara anak-anak mengaji. Sekarang menasah kosong dan para kaula muda hanya memenuhi warung kopi.
“Belum lama kan yan?” ucapku sambil menghidupkan notebook dan memasang modem.
“Baru aja, ngapain pake modem? Disini ada free WIFI Ra”
“aku gak tau yan, banyak yang berubah ya. Apa kabar kamu? Kerja dimana?”
“ya kayak sekarang ini, aku kerja di kantor gubernur di Padang. Kebetulan ada kerjaan disini”
“Kalo aku sih lagi liburan, aku ambil cuti seminggu dan ada kerjaan juga di Jakarta ya udah sekalian balik aja”
          Suara khas Glen fredly mengalun indah menyanyikan lagu “Sekali ini saja”, kenangan itu seakan bangkit lagi menghantuiku. Café ini disesaki mahasiswa, ada yang bersama pacarnya, teman-teman tampak riang gembira dan saling bersenda gurau tapi itu semua tidak dapat menghibur hatiku yang sedang gundah.
“Ra.. Maaf soal waktu itu”
“Lupain aja yan, Andre salah paham waktu itu”
“Aku gak enak banget Ra, kita waktu itu kan lagi reunian tapi baru kita berdua yang dateng”
“Aku tau yan, dia kira kita sedang berduaan aja. Maklum dia kan overprotektif gitu”
“Sebenernya waktu itu aku mau bilang sesuatu Ra, tapi keburu dia dating trus marah-marah gak jelas”
“Mau bilang apa emang yan?”
“Seminggu sebelum itu aku ngeliat dia sama Rina di depan kostan Rina, mereka ciuman gitu. Trus aku juga liat dia di distro dekat rumah kamu, mereka mesra banget”
“yan kamu…”
“Aku serius Ra, aku sempat foto dan masih aku simpan” ucap Ryan sambil memperlihatkan foto di ponselnya.
          Iya itu Andre, Andre yang saat itu masih pacarku. Aku ingat benar kejadian itu pasti setelah kami merayakan 3rd Anniversary kami, dia masih pake celana kain dan baju couple bugs bunny. Tangisku pecah di pundak sahabatku ini, terisak aku ditengah hiruk pikuk orang-orang yang bersenda gurau. Tak ada yang memperhatikanku, tak ada yang mengerti perasaanku. Ternyata tuduhannya waktu itu untuk menutupi perselingkuhannya yang tak ku tau sudah berapa lama, ternyata sikapnya yang overprotektif sebulan sebelum kami putus hanya untuk mengawasi aku agar tidak mengetahui apa yang dia lakukan. Mengapa tak pernah terpikir olehku? Selama 10 tahun ini aku berpikir dia lelaki yang setia dan sangat menyanyangiku, tapi apa? Dia berkhianat dibelakangku.
“Ra.. cukup! Orangnya dateng tuh”
“Dia liat aku nangis tadi?” ucapku gelagapan sambil mengusap air mata yang sedari tadi membasahi pipiku.
“Gak Ra! Jangan liatin dia, acuhin. Buka aja file kerjaan kamu”
“Pura-pura sibuk yan?”
“iya, cepetan! sebelum dia liat kita Ra!”
          Kubenamkan pandanganku ke email yang berisi laporan mingguan, tampak diujung mataku Andre sedang memperhatikanku. Ryan juga tampak tampak sibuk dengan ponselnya yang sesekali mencuri pandang mengamati ekspresiku yang datar. Andre duduk didepan kami, persis menghadapku. 10 menit berlalu dalam diam, aku memutuskan pulang.
“Yan, aku pulang ya! Mau nelpon client, gak enak ngomong ditempat rame gini”
“Oke lanjut aja, aku juga mau pulang udah malem nih”
“Aku besok mau jogging, mau ikutan yan?”
“Gak deh Ra, besok jadwal padat”
“iya deh, orang penting! Hehe.. bye yan”
          Kutinggalkan Ryan dan bergegas keluar café itu. Andre memanggilku tapi ku acuhkan seolah aku tak mengenalnya. Ratih keheranan melihat aku tergesa-gesa memasuki mobil, peluh dan air mata memenuhi wajahku malam itu.

Bersambung...

Selasa, 12 April 2011

Senja Diujung Banda (Part 1)

Burung-burung beterbangan seiring mentari yang hendak kembali kepernaungannya, semilir angin memaiinkan nyiur seolah melambaikan salam perpisahan kepada nelayan yang hendak melaut. Sungguh elok memang pemandangan ujung Banda ini, tapi suasana ini tidak dapat memecah keheningan diantara kami.
 “kamu gak boleh nuduh gitu dong ay, kamu harus denger..”
“Gak ada lagi yang harus didengerin ra!! Udah lah!!”
“Jadi kamu maunya apa ay?”
“Aku mau kita putus!”
“Tapi ay…”
“Ini yang aku inginkan sekarang!”
“Tapi aku..”
“Udahlah !! Aku capek ngadapain sikap kamu yang kekanak-kanakan gini.. dulu kamu pernah janji kamu bakal berubah tapi sekarang apa? Ini yang kamu bilang setia? Aku muak dengan tingkahmu!”
“Andre!! Aku masih…”
“Tapi aku gak lagi”
“ndre..”
“Cukup ra!! Aku udah gak bisa kayak dulu lagi.. Rasa itu udah gak ada sekarang”
Langit yang tadi kemerah-merahan kini beranjak menjadi gelap, malam menjelang diiringi suara adzan maghrib.
“Clara!! Kamu harus kuat!! Life must go on.. I can without him!”
***

Sydney, 10 November, 10:00 pm
Ding..
Ding..
Ding..
Suara buzz ym membuyarkanku konsentrasiku dari tumpukan berkas yang sejak tadi ku periksa.
“Eh Ra!! Keluar yuk! Laper nih”
“Pagi-pagi gini? Mau kemana san?”
“Ke café sebelah aja, gak kuat lagi nih”
“Tapi aku lagi banyak banget kerjaan nih!”
“Ayolah ra! L
“Delivery aja deh! Nanggung banget kok ditinggal”
“Humm… mau sampe kapan kamu gini Clara?”
“Maksud kamu apa Santi?”
“Ra.. sejauh apapun kamu lari kamu gak akan lupa dia, karna kamu selalu bawa dia dalam pikiran dan hati kamu”
Menghindar, itu yang selalu dituduhkan sahabatku sejak SMA ini. Sudah 7 tahun ini aku tinggal berpndah-pindah mulai dari Jakarta, kuala lumpur dan sekarang Sydney. Membenamkan diri dalam rutinitas pekerjaan, bahkan aku meninggalkan keluargaku di banda. Enggan pulang, mungkin itu kata yang tepat untuk apa yang aku rasakan sekarang. Bertahun-tahun kuhabiskan waktu ditempat orang, hanya sesekali keluargaku datang untuk menjengukku.
Ding..
“Woi Ra!! Masih disana?”
“Eh.. hmmm.. iya masih..”
“Ra udahlah, ikhlasin aja! Sekarangkamu udah punya semuanya, pekerjaan, harta, jabatan, keluarga. Masa mau terpaku sama 1 laki-laki sih? Tau juga ga kabarnya gimana setelah tsunami, umurmu bukan belasan lagi Ra!! Umur 24 bagi wanita itu udah mapan, bukannya banyak yang kejer-kejer kamu ya?? Mulai dari bos bulek kita, temen-temen kampus dulu, sampe client yang mirip David Beckham juga naksir kamu. Kenapa gak pilih 1 trus nikah aja?”
“tapi aku..”
“Clara sayang STOP!! Lupain dia, ikhlasin aja”
Seluruh usaha sudah kulakukan hanya untuk membuatku lupa sedetik saja akan kejadian itu, tapi semuanya nihil. Kejadian 7 tahun yang lalu benar-benar menyisakan luka mendalam dihatiku. Terakhir kali sebelum keberangkatanku untuk kuliah ke ibukota, aku masih menyaksikan Andre sedang bercumbu mesra dengan mantan pacarnya Rina di café dekat rumahku. Selang sehari kami berpisah Andre kembali kepelukan Rina adik kelasku, tragis memang tapi itu lah yang kulihat waktu itu. Itu yang membuatku semakin yakin untuk meninggalkan kota kelahiranku dan beasiswa di UI mempercepat langkahku untuk pergi. Posisiku sebagai programmer disalah satu perusahaan swasta di negeri kangguru, studi S2ku yang hampir rampung, dan relasi-relasi yang banyak seharusnya sudah membuatku lupa akan sepotong kisah itu dan memungkinkanku memiliki pendamping sekarang.

Sydney, 14 November 2011, 03:00 am
“Ndre.. please!!”
Tititiiiit.. titiiit..
Suara ponsel membangunkaanku dari mimpi buruk.
“Argh.. mimpi itu lagi!” desahku sambil meraih ponsel.
“Assalamualaikum bunda..”
“Walaikusalam sayang, besok jadi kejakarta kan?”
“Iya bun, jadi”
“Berapa hari di Indonesia?”
“15 hari bun, 8 hari tugas sisanya cuti.. mungkin kok tugas cepat selesai bisa nambah libur, pengen ke Bandung bun”
“Gak usah ke Bandung ya kak, ke Banda aja. Bunda kangen”
“Apa bunda?”
“Iya sayang, sebentar lagi kan bunda ulang tahun”
“Aku pikir-pikir dulu ya bun”
“Gak ada pikir-pikir lagi, tiket udah bunda pesan tanggal 22”
“Iya deh bun, Aku kesana. Adek mau dibawain apa?”
“Yang penting kamunya aja kak, kalo si adek gak terlalu masalah”
“Iya bun, aku packing dulu ya! Tadi malem lembur lagi jadi gak sempat”
“kapan sih kamu gak lembur kak”
“Ahh bunda.. bisa aja deh. Bye mom!”

Jakarta, 21 November 2010, 02:00 pm
“Ra! Kok diem aja daritadi?”
“hmmm…”
“kenapa gak konsen gitu pas meeting tadi?”
“Bunda udah pesan tiket buatku San”
“Bukannya bagus ya Ra, udah 7 tahun kamu gak pulang. Kapan berangkat?”
“Besok San, males banget”
“Ini akhir dari masa “MENGHINDAR” kamu Ra”
“Apaan sih!”
“Beneran Ra! Ikhlasin aja dia..”
“Udah deh jangan ledekin aku, kamu mau ikut san?”
“Gak deh Ra, keluarga di Surabaya nyuruh pulang nih”
“Okelah.. See you San!”


Dengan malas kubereskan berkas yang daritadi berserakan di atas meja. Malas sebenarnya pulang tapi tak bisa lagi kutolak permintaan bunda kali ini, lagian bunda besok ulangtahun.
“Mbak.. Liontin yang ini 1 dan yang itu sepasang ya mbak”
“Oh ini mbak”
Hadiah sudah di tangan, aku harus pulang. Ini Cuma sepotong kisah yang kurang indah, aku harus bangkit dari keterpurukanku dan memulai kisah yang baru.


Bun, besok gak usah jemput ya
Pesawatnya delay, mereka sms aku tadi
Sending
CLARA

Bersambung...

Tuhan Punya Rencana yang Aneh

6 November 2002
Aku bahagia sekarang
Hari-hari ku sekarang selalu dihiasi olehnya
Aku suka senyumannya, aku suka cara dia tertawa, aku suka cara bicaranya, aku suka cara dia memarahiku, aku suka semua yang ada di dirinya..
Ya Allah, katakan pada hamba bila ia memang jodoh hamba
Love you honey :*

Gadis terus menangis melihat diarynya itu, lembaran yang telah dibacanya ribuan kali semenjak ia ditinggal kekasihnya. Lembaran tersebut kini telah usang, penuh dengan robekan dan tulisannya sudah tidak jelas lagi.
“Dia ga akan kembali kan? Sayang kamu dimana?? Aku butuh kamu, kenapa kamu ga temuin aku?” ucap gadis terisak-isak.

Gadis hanya ingat seorang cowo yang udah buat dia jatuh cinta buat pertama kalinya, cowo itu bernama Enggar. Cowo paling keren seantero SMAnya dulu, ketua OSIS, atlet basket, siswa paling berprestasi saat itu. Enggar menjadi idaman semua siswi SMA itu, tapi dia tetep kekeuh buat macarin Gadis. Siswi Kelas 1, Gadis itu jutek, ngeselin, suka mainin cowo, ga terlalu cantik tapi dia manis. Akhirnya mereka berdua pacaran setelah beberapa bulan Enggar PDKT dengan Gadis. Hari-hari mereka lalui berdua, kekantin berdua, keperpus berdua, Enggar juga sering kekelas Gadis, sampai-sampai mereka di juluki BEST COUPLE. Setahun mereka lalui berdua tanpa ada masalah sedikit pun.

“Dis, aku mau ngomong” Ucap Enggar sambil menarik tangan gadis
“Apa sayang? Kok pake acara tarik tangan aku segala? Emang penting ya?”Jawab Gadis.
“Aku mau kita putus” Seru Enggar setengah berteriak.
“Kenapa gar? Salah aku apa? Kenapa kamu mutusin aku? Aku ga mau gar, aku sayang kamu.” Jawab Gadis dengan linangan air mata.
“Alaah.. ga usah pura-pura nangis deh, kecentilan kamu aja belum bisa kamu ilangin. Baca tuh sms di HP kamu, gimana entar kalo aku married sama kamu? Aku ga mau tau, kita putus sekarang” Teriak Enggar dengan penuh kekesalan.


***




Sejak kejadian itu Enggar menghilang bak ditelan bumi, pindah sekolah, pindah rumah, ganti nomer. Enggar sama sekali tak bisa dihubungi. Gadis hanya bisa menangis tanpa dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Enggar. 

“Gar… kamu salah!! Sms itu dari sepupu jauh aku, dia hanya menanyakan kabarku. Kenapa kecemburuanmu itu merusak cintamu yang tulus kepada ku??” sesal Gadis.

Gadis terus berusaha mencari Enggar, dia berusaha menghubungi teman-teman Enggar tapi tidak ada satupun yang tau Enggar kemana. Sejak saat itu Gadis menjadi pemurung dan tak banyak bicara, kegiatannya hanya belajar dan terus didepan komputer tanpa penah ia memikirkan kesehatannya sendiri. Yang ia pikirkan hanya kemana Enggar pergi. Gadis menjadi sangat kurus, sering kali ia keluar masuk RS karena tifus, anemia dan maag yang ia derita.

8 tahun berlalu…
Gadis kini telah menjadi dokter, cita-cita yang telah diimpikannya sejak di bangku SD. Tapi hingga kini Gadis tidak pernah membuka hatinya untuk lelaki manapun, ia masih teringat dengan Enggar.

“Dok, ada seseorang yang ingin berkonsultasi dengan anda” Ujar seorang suster.
“Ya sus, suruh saja dimasuk ruangan saya” Jawab gadis
Lelaki itu masuk dengan menundukkan setengah wajahnya..
“Sepertinya aku kenal dia” Ucap Gadis dalam hati.
“Silahkan pak, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Gadis.

Lelaki itu melihat Gadis dan kembali menunduk..

“Pak.. kok diam? Apa anda mendengar saya pak?” Tanya Gadis lagi.
“Dis, apa kamu udah ga kenal aku? Maafin aku Dis” Ucap lelaki itu sambil melihat mata gadis yang telah dipenuhi linangan air mata.

“Ini Enggar? Kenapa kamu ga nyari aku dari dulu? Kenapa kamu harus menemuiku sekarang? Kenapa kamu temui aku disaat hatiku mulai bisa mengobati sakit yang kamu buat dulu? Gar, hatiku tetap buat kamu. Walau kamu udah ninggalin aku 8 tahun lamanya, tapi cinta itu tetap buat kamu Gar” Batin Gadis.

Gadis hanya bisa menangis dan terus menangis, tangisan haru, bahagia, sedih semuanya menjadi satu mlam itu.

“Dis, jawab aku!! Kamu jawab dong, jangan diam aja. Aku kangen kamu dis, aku butuh kamu dis. Rasa di hati ini ga akan pernah berubah. Maafin aku dis” Teriak Enggar.
“Kenapa kamu tinggalin aku?” Tanya Gadis datar.
“Waktu itu aku sedang emosi dis, setelah aku putusin buat pindah ke Melbourne menyusul orangtuaku aku baru sadar kalo keputusan yang aku ambil salah. Aku salah mutusin kamu waktu itu, aku udah salah paham sama kamu.” Jawab Enggar penuh sesal.
“Jadi tujuan kamu temuin aku sekarang apa?” Tanya Gadis lagi.

“Will you marry me, Gadis?” Tanya Enggar seraya menyodorkan Gadis sebuah cincin.



© 2012 Aneuk Dara Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com